10 Sebab Dicintai Allah oleh Abdul Aziz Mustafa

10 Sebab Dicintai Allah, pemilihan judul buku yang berhasil menarik hati. Saya menemukan buku ini di tumpukan buku-buku lama di rumah. Lembar pertama tertera nama suami saya beserta tanggal dan tahun pembelian, 20 Maret 2006. Lumayan lama juga, 12 tahun lebih usia buku ini dengan tampilan buku yang masih 95% seperti baru, cover masih mulus, lembar-lembar di dalamnya pun demikian, hanya ada sedikit noda-noda kekuningan di beberapa sudut buku, efek penyimpanan yang kurang terawat.

Pertama membuka buku ini, hati seolah tak sabar ingin segera melahap dengan nikmat segenap ilmu di dalamnya. Saya telusuri daftar isi dan membacanya satu per satu, sambil melompat-lompat jari saya melihat-lihat halaman bagian dalam berharap menemukan quote-quote yang menarik hati untuk memulai membacanya. Salah satu kebiasaan saya, membaca buku dimulai dari quote yang menarik dan menggugah selera baca hehe…

1 menit, 2 menit, 3 menit, 5 menit, tidak juga saya menemukan quote yang menarik minat saya. Ingin rasanya mengembalikan lagi buku ini ke barisan buku-buku lama ke dalam rak. Tapi, judul buku “10 Sebab Dicintai Allah” ini begitu memukau perhatian saya, hingga akhirnya saya menyerah dan memulai membaca buku ini runut dimulai dari daftar isi dan kata pengantar lanjut isinya sampai habis.

Siapa yang berjalan dengan petunjuk jalan
Dia akan berjalan perlahan tapi tiba paling depan

Yes, alhamdulillah akhirnya nemu juga quote yang menggugah selera baca saya, dan ternyata quote itu saya temukan di kata pengantar. Benar, kata pengantar. Biasanya kata pengantar saya skip, tidak saya baca karena saya anggap semacam seremonial saja, pelengkap sebuah karya. Namun, ternyata nemu juga ‘berlian’ di bagian ini. Baiklah, semangat membaca buku ini naik 40%, alhamdulillah.

Sempat mengalami gagal paham, karena beberapa rangkaian kalimat yang kurang terangkai dengan indah. Penggunaan kata ganti orang kedua dan ketiga di awal kalimat pada awal paragraf, sempat membuat saya kebingungan untuk menentukan siapa gerangan yang dimaksud. Meskipun akhirnya ketemu juga dengan membaca berulang paragraf-paragraf sebelumnya. Contohnya di halaman 12, pada paragraf pertama, awal kalimat, “Ketika Allah mengajak mereka dan seluruh umat manusia untuk menghayati…”  Nah, mereka siapa? Sedangkan paragraf di atasnya adalah kutipan terjemah ayat Al Quran dari Surah Al Baqarah. Disini mungkin bisa dilakukan sedikit perbaikan demi kelancaran pemahaman pembaca.

Masih tentang pemilihan bahasa, di dalam buku ini saya menjumpai beberapa paragraf yang memulai kalimatnya dengan kata “Jadi”. Seperti umumnya kita tahu, menggunakan kata “jadi” pada awal paragraf adalah menunjukkan adanya sebuah kesimpulan akhir dari paragraf-paragraf sebelumnya. Namun, sepertinya hal tersebut tidak berlaku pada buku ini, sebab setelah paragraf “jadi” tersebut, pembahasan masih dilanjutkan di paragraf-paragraf selanjutnya. Sedikit berharap supaya hal ini pun direvisi lagi hehe.. (maafkan saya ya, sungguh buku ini bagus dan akan lebih bagus serta menarik bila rangkaian kalimatnya indah dan sesuai kaidah tata bahasa).

Sedikit kekurangan buku 10 Sebab Dicintai Allah sudah saya paparkan, alhamdulillah hanya dari segi diksi saja sih, bukan sebuah hal yang besar. Terlebih setelah kemudian saya menyadari bahwa buku ini merupakan buku terjemah dari buku aslinya yang berjudul Syarh al-Asbab al-Asyarah al-Mujibah li Mahabbatillah. Kalau buku terjemah, wajar lah ya ada sedikit ditemukan ‘kekakuan’ bahasa di dalamnya, karena untuk mengetahui maksud asli sang penulis sungguh tidak mudah. Baiklah, terlepas dari sedikit kekurangan dalam pemilihan kata dalam memaparkan sebuah berita, buku ini berhasil membuat saya bertekuk lutut dan menangis. Hal-hal yang nampak sederhana, seperti memperbanyak membaca Al Quran, rutin dan istiqamah mengerjakan qiyamul lail, senantiasa berdzikir, memang banyak bisa kita temui nasehat itu dimana-mana, istilahnya itu adalah rumus dasar menjadi seorang mukmin yang dicintai Allah. Namun, entah kenapa melalui buku “10 Sebab Dicintai Allah” ini, saya kembali tersadar, betapa kurangnya amal sholih saya di usia yang tidak lagi bisa dikatakan muda. Tambahan penjelasan yang dikutip dari kitab-kitab para salafush sholih seperti Ibnu Qayyim al Jauziyah, Ibnu Taimiyah, Fadhil ibn ‘Iyadh, Ibnul Jauzy itulah yang menjadi nilai lebih buku yang dicetak setebal 197 halaman ini.

“Penghafal Al Quran adalah pembawa panji agama Islam. Oleh karena itu, ia tidak sepatutnya lalai walaupun ia bersama orang-orang yang lalai, tidak lupa walaupun sedang bersama orang-orang yang lupa, dan tidak berfoya-foya walaupun bersama orang yang suka berfoya-foya, sebagai penghormatan kepada Allah”
Fadhil ibn ‘Iyadh dalam Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hal 45

Paragraf di atas adalah salah satu contoh kutipan dari kitab salafush sholih yang tercantum di dalam buku kecil ini. Sangat membantu dalam memperjelas maksud dari ide yang dipaparkan, meskipun untuk melihat footnote nya, pembaca harus lompat jauh dulu ke halaman paling belakang hehehe… (berharap nanti kalau dicetak ulang, footnote nya taruh di bawah saja ya pak editor, biar pembaca tidak perlu membolak-balik halaman hanya sekedar ingin tahu footnote nya. Saya termasuk salah satu pembaca yang sangat perhatian terhadap footnote sebuah karya).

Alhamdulillah saya tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk melahap habis buku ini. Selain masuk dalam hitungan tipis (197 halaman), ide-ide yang dipaparkan di dalam buku ini berulang antara satu halaman ke halaman yang lainnya, disini model membaca scanning bisa diandalkan hehe… Dari saya, bintang 3,5 untuk buku yang yang diterbitkan oleh Qisthi Press yang satu ini. Terima kasih telah memperkaya khasanah buku Islam di Indonesia.

“Sesungguhnya, shalat mempunyai ruh dan kehidupan.
Shalat perlu sujud, rukuk, dan khusyu. Dengan shalat, manusia diharapkan bisa membersihkan diri dari kotoran dan dosa-dosa.”

“Barangsiapa hatinya khusyu maka setan tidak akan berani mendekatinya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *