Remaja antara Hijaz dan Amerika

Judul Buku: Remaja antara Hijaz dan Amerika
Penulis: Budi Ashari, Lc
Penerbit: Pustaka Nabawiyyah
Tahun Terbit: April 2020, cetakan kelima
Tebal: 125 halaman
Genre: Nonfiksi, Parenting Islam, Keluarga
Rating: 4/5
Peresensi: @faridaelfatica

Tema pendidikan anak untuk sebagian orang tua merupakan tema yang digandrungi, namun tidak menutup kemungkinan juga merupakan tema perbukuan yang dihindari. Rumit dan uniknya proses mendidik sebuah keluarga memang merupakan sebuah tantangan tersendiri, tidak terkecuali untuk saya pribadi. Perasaan jenuh, bosan, acapkali muncul, namun pada saat yang bersamaan seringkali kebosanan itu sendiri menjadi pelecut untuk terus menggali lagi dan lagi ilmu tentang mendidik anak.

Adalah Budi Ashari Lc, nama yang tercantum sebagai penulis dalam buku kecil ini. Buku ini tipis, hanya 125 halaman dengan ukuran buku 20,5 x 14,5cm. Sewajarnya, buku ini mampu dibaca habis dalam waktu tak kurang dari dua jam saja. Namun, ternyata saya salah, kali ini saya hanya mampu melahap habis buku ini dalam waktu 9 hari, sangat lama ya untuk buku berukuran tipis ini.

Di awal buku ini, setelah kata pengantar dan sambutan, penulis langsung menyajikan inti permasalahan pendidikan anak, yakni pandangan yang salah dalam menilai remaja (dalam buku ini dibatasi pada pembahasan usia remaja). Penulis memaparkan bahwa penggunaan istilah remaja dalam fase pertumbuhan anak adalah tidak tepat, bila merujuk pada Al Quran. Dijelaskan dalam buku ini, bahwa pada Al Qur’an, berkali-kali Allah menggunakan istilah fata yang berarti pemuda, bukan remaja.
Pemilihan kata remaja sebagai penanda usia yang berada di antara kanak-kanak dan dewasa, tanpa kita sadari merupakan sebuah ghazwul fikri yang mengaburkan konsep cemerlangnya usia pemuda yang justru dipuji-puji Islam dalam konsep mendidik anak.

Nah, untuk teman-teman yang lebih suka membaca buku dengan topik yang ringan-ringan, bersiaplah bosan dan meletakkan kembali buku ini ke dalam susunan rak buku. Namun, saran saya, coba bertahan dulu, sesekali mencicipi tema yang agak berat dengan memaksa diri dan menata niat untuk mendapatkan ilmu baru, sangat layak dicoba pada buku ini.
Seperti halnya buku-buku Budi Ashari yang lainnya, buku berjudul Remaja antara Hijaz dan Amerika ini pun merupakan buku konsep pendidikan, tidak ada tips dan trik, juga tidak ada disertakan contoh konflik pengasuhan. Kekurangan yang menurut saya itu adalah kelebihan terbesar buku ini, satu hal yang membuat saya tertarik dan kini melengkapi hampir semua serinya.

Apabila Anda, orang tua yang membaca buku pendidikan anak Islam merasa bosan karena sering “disalah-salahkan” terus ketika membaca buku, maka pilihan Anda membaca buku ini sudah tepat. Di dalam buku ini, insyaAllah, Anda akan lebih bahagia, karena tidak ada judgement, hampir semuanya bersifat pemaparan ilmu mendidik anak yang merujuk pada Al Quran dan hadits nabi.

Pada bagian tengah buku ini, setelah “lelah” membaca sejumlah data penelitian tentang kenakalan remaja di belahan bumi Amerika (barat), pembaca dihibur dengan kisah-kisah qurani tentang cemerlangnya generasi pemuda Islam yang telah banyak disebutkan dalam Al Quran. Seru dan asyik bukan? Penulis seakan benar-benar telah memahami bagaimana emosi pembacanya, sehingga pembahasan yang semula terkesan berat, menjadi ringan dan menenangkan, masyaAllah.

Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Jujur saya akui, saat membaca buku ini, saya jadi tau istilah yang tercantum dalam Al Quran ataupun hadits seperti fata, ar rusyid, shobiy, as safih, dll. Sampai tadi sempat juga saya membatin ingin memberi nama anak laki-laki Rasyid, saking bagusnya arti kata ini dalam konsep pendidikan anak Islam.

Sebagai bonus di akhir pembahasan buku ini, penulis menyisipkan, kriteria atau standard yang ditetapkan untuk generasi pemuda Islam sehingga bisa dikatakan mandiri dan boleh diberikan amanah untuk mengelola atau menjadi pemimpin, minimal menjadi pemimpin rumah tangga.

Last but not least, bukan hanya mengajak pemuda menjadi mandiri, namun juga kita sebagai pembaca, yang segmentasi pembaca buku ini adalah orang tua, juga dilatih untuk lebih mandiri, karena setelah membaca buku ini tidak ada arahan harus melakukan apa dan bagaimana, jadi betul-betul hanya memaparkan konsep Islam saja (jangan khawatir ya buat yang mungkin berpikir takut terpengaruh pemikiran di dalam buku ini), karena penulis benar-benar membebaskan pembaca untuk menentukan langkah selanjutnya sendiri dan pikiran saya pun langsung travelling, mau apa nih kita selanjutnya dalam mendampingi generasi pemuda Islam di masa sekarang dan yang akan datang, anak-anak saya dan anak-anak umat Islam pada umumnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *