Prophetic Parenting, ah ternyata… saya masih perlu banyak berbenah

Beberapa waktu terakhir di awal tahun 2017 ini, nampaknya betul-betul membuat saya banyak berpikir ulang. Aneka macam kegiatan di hadapan memang telah memberikan banyak sekali pengaruh positif untuk penyegaran otak dan wawasan saya yang selama ini (mungkin) kurang dioptimalkan. Namun, aneka ragam kegiatan yang seolah membuat saya terhibur ini, ternyata bisa lenyap dengan sangat mudahnya saat melihat anak-anak tergolek lemah, sakit. Ah, ternyata memang benar anak disebut dengan buah hati kedua orang tuanya, karena memang dialah faktor yang berpengaruh pada kebahagiaan maupun kegundahan hati ini. Melihat anak merasakan sakit karena demam, ngga mau makan-minum dan muntah seharian, itu sudah bisa menghapus 70% kesehatan emosional sang ibu.  Rasanya apa saja bakal dilakukan untuk memulihkan kesehatan sang anak, atau paling tidak mengurangi rasa sakit yang dialaminya. Lalu, saya teringat, bagaimana dengan nanti di yaumil akhir? Bukankah, demam ini menurut sabda rasul, hanyalah sebagian kecil dari panasnya api neraka? Ah, anak-anakku.. semoga kalian nanti bisa melalui sirath dengan indah dan berada dalam keselamatan serta naungan ridho Allah subhanahu wa ta’ala. Tentunya, siapa sih yang tidak menginginkan bersama sekeluarga masuk ke dalam surgaNya dan lolos dari amukan panasnya api nerakaNya?

Dari sini, sangat perlu kiranya, saya sebagai seorang ibu harus segera mempersiapkan, menjadwalkan serta mengatur segala hal untuk mewujudkan cita-cita yang satu itu, bersama sekeluarga masuk ke surgaNya. Salah satu agenda yang tidak boleh dilewatkan adalah mendidik dan membesarkan anak-anak sesuai dengan fitrah dariNya, karena tugas utama seorang ibu adalah sebagai pemimpin atas diri anak-anak yang telah Allah anugrahkan kepadanya. Dan tentu saja, sebagai seorang pemimpin, nanti di akhirat, saya dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah saya lakukan.

Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk re-manage diri, salah satunya adalah dengan menambah wawasan ilmu pengasuhan dan pendidikan anak. Dua buku andalan saya yang mempengaruhi pola pendidikan saya ke anak-anak untuk saat ini adalah Islamic Parenting dan Prophetic Parenting (list judul buku bisa bertambah seiring dengan bertambahnya waktu dan tentunya buku-buku baru yang nantinya akan terbit).

Untuk saat ini yang ingin saya kupas terlebih dulu yakni buku Prophetic Parenting. Buku tebal yang satu ini sebenarnya sudah lama menghuni rak buku saya, kalau ngga salah di tahun 2014, namun baru di tahun 2017 ini saya mau membacanya (kemana aja kakak? hehe). Dan, seperti biasa, penyesalan itu ada di akhir, saya sangat menyesal setelah membaca baru di daftar isi buku ini saja, ternyata isinya betul betul bagus dan sangat diperlukan oleh setiap pendidik, baik itu orang tua maupun guru. Saya menyesal kenapa ngga dari dulu saya baca, kenapa baru sekarang ya? Ya baiklah, setidaknya ada satu hikmah, jangan hanya suka beli buku saja, tapi baca juga dong dan amalkan kebaikan yang di dalamnya! (tulisan bersambung besok ya, insyaAllah ^^)

 Judul buku: Prophetic Parenting; Cara Nabi Saw Mendidik Anak
Judul Asli: Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyyah lith Thifl
Penulis: Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid
Penerjemah: Farid Abdul Aziz Qurusy
Penerbit: Pro-U Media
ISBN: 979-1273-69-3
tebal: 610 halaman
harga: Rp 90,000 (beli di saya dapat diskon khususss)

Saya jadi teringat, alasan saya dulu menunda untuk membaca buku-buku ini, dalam hati saya berkata, “ah palingan isinya ya gitu-gitu aja, pilih pasangan yang baik, lalu adab-adab sebelum berhubungan, menjaga baik-baik kandungan serta pelaksanaan syariat setelah kelahiran seputar aqiqah dan teman-temannya. Trus juga mungkin motivasi bahwa mendidik anak itu amanah utama, harus diperhatikan, yaa intinya jadi ortu yang baik lahhh” maka saya pun meletakkan kembali buku ini rapi di raknya, tanpa mencoba membaca isi bagian dalamnya. haha.. itulah saya dulu, mungkin karena masih belum merasakan bagaimana berwarna dan variasinya dunia anak itu. Dan bagaimana bisa, dari “bibit” yang sama, makanan yang sama, bahkan alat tulis, baju dan lain-lainnya serba sama bisa menghasilkan karakter anak yang sangat jauh berbeda hehehe… iyaaa dan saya baru “terbangun” di tahun 2016! Saat ketiga anak saya sudah bertumbuh, tak lagi bayi dan balita.

Ada satu sub judul yang menarik perhatian saya pada bagian pertama buku ini, “Ketika Setan dan Manusia Bertempur”. Wah, apa ini ya… masa iya perang antara manusia dan setan? dan ternyata yang dimaksudkan dari judul ini adalah sebuah peringatan untuk para orang tua dan pendidik, bahwa setan itu selalu berusaha untuk merebut anak dan keturunan manusia dan telah bersumpah untuk menjauhkan anak keturunan manusia dari jalan ketaatan kepada-Nya, sebagaimana yang telah dikabarkan Allah dalam QS Al Isra ayat 62-64. Allah memberitahukan ini supaya kita, selalu waspada dan senantiasa berjuang untuk menjadikan anak-anak kita dekat kepada Rabbnya.

Ibarat kamus, buku ini memuat lengkap resep-resep mendidik anak dalam tiap tahap perkembangan usianya. Kalau anak begini, treatment perlakuannya begini, kalau pas begini ngga boleh begitu, dsb. Ah… kenapa ngga dari dulu sih saya bacanya, mana di buku ini dituliskan pula resep pendidikan anak usia 2th dimana dulu saya lewatkan begitu saja tanpa mengetahui ilmu mendidik anak cara nabi ini. Tapi ya.. semua sudah qadarullah, yang penting sekarang, saya ngga mau lagi menyia-nyiakan waktu terbuang percuma, saya tak mau lagi melewatkan kesempatan emas mendidik anak-anak yang telah diamanahkan kepada kami berdua, iyaa berdua, saya dan suami saya tentunya hehe…

Hal yang umum dihadapi oleh para ibu dengan anak lebih dari satu adalah, keributan dua anak kecil akan hal yang sepele menurut para orang tua, tapi jangan salah.. itu bagi anak-anak merupakan hal besar, hingga bisa membuat mereka menangis satu sama lain. Misalnya, kita sudah belikan mainan sendiri-sendiri, eh masih saja rebutan. Kita sudah siapkan tempat tidur masing-masing, masih saja saling iri satu sama lain. Atau mungkin ada yang sukanya kejar-kejaran tanpa henti di dalam rumah yang penuh perabot namun bagi anak tak beda seperti sebuah playground? haha.. saya mengalami itu semua, alhamdulillah.

Pernah tidak ibu-ibu merasakan capek luar biasa, mengingatkan dan menasehati sang anak, namun yang terjadi adalah omongan kita seperti menguap begitu saja, nyaris tak terdengar! alhasil, anak-anak tetap saja “asyik” ribut dan ramai dengan saudaranya, sementara sang ibu entah harus menaikkan nada bicara berapa oktaf lagi ya.

Dan ternyata, di buku ini ada caranya! ada tips dan triknya, bagaimana menghadapi anak-anak yang seperti ngga ada habis tenaganya. Bagaimana tips yang bisa dilakukan supaya anak bisa memahami apa yang kita sampaikan dan itu terus tertanam di ingatannya, namun kita ngga perlu harus capek teriak-teriak apalagi pakai ancaman menakut-nakuti sang anak.

Pernah berdialog dengan si kecil? Pernah dong pastinya. namun yang saya maksudkan disini adalah berdialog hal-hal serius namun tetap ringan dan mudah dicerna. Misalnya, mengajak si kecil berdialog tentang nilai sebuah kejujuran, menghormati saudara yang lebih tua, menyayangi saudara yang lebih muda, tidak boleh marah dan aneka ragam tema dialog lainnya yang sangat bermanfaat untuk pembentukan akhlak sang anak.

Dalam proses dialog ini, kita, sebagai orang tua, perlu memilih waktu dan mengetahui saat-saat terbaik anak kita mampu menerima dan siap berbicara dengan kita. Untuk itu, kita perlu memahami cara bagaimana mempengaruhi akal dan jiwa sang anak, bagaimana caranya supaya anak mau interaksi aktif dengan obrolan kita, dan yang paling penting bagaimana cara mengarahkan anak supaya berbakti pada orang tua tanpa paksaan, tanpa suruhan, namun dengan penuh keikhlasan dan kesadaran. Disinilah saya betul-betul baru memahami bagaimana caranya.

Trus kalau ternyata anak-anak sudah baik, bahkan sangat baik, mau nurut apa aja kata orang tua, gimana lagi? nge blank nih.. ngurus kerjaan rumah aja ngga ada habisnya, masak, bebersih rumah, beberes, bantu ngerjakan eh mengarahkan tugas-tugas yang dari sekolah, belum lagi tambahan kerjaan yang dicari-cari,  ngonline hihi atau jualan online. Ah yang penting anak sudah mau shalat, sekolah, ngaji, belajar, nilai bagus,  sudah lebih dari cukup deh. Eits, jangan gitu juga… kita perlu tau juga, apakah si kecil menemui masa-masa jenuh di aktivitas hariannya? trus apa iya cukup dengan list aktivitas tersebut saja untuk mendekatkan anak pada Sang Penciptanya? dan ternyata jawaban di buku ini adalah tidak, belum cukup.

Kita sebagai orang tua perlu membentuk mental anak supaya kuat, tahan banting, tidak mudah rapuh, namun kita juga perlu membentuk perasaan anak, mengajarkan lemah lembut kepadanya, menanamkan rasa cinta dan haus akan ilmu, membentuk akhlaknya, memelihara kesehatannya, juga mempersiapkan jiwa sosial dan kemasyarakatan sang anak. Oh ya, dan satu lagi, mempersiapkan anak menghadapi masa-masa transisinya menuju proses dewasa dengan mengenalkan ajaran-ajaran Islam mengenai kecenderungan seksual.

Dan ternyata sungguh banyak tugas kita sebagai orang tua yang diamanahi anak, sudah sampai manakah tahap belajar kita? seimbangkah dengan cepatnya laju pertumbuhan anak-anak kita? Lalu masih butuh me time ngga nih caranya kalau begini? me time nya diganti qiyamul lail aja yukkk…. mencharge diri langsung dengan power dari Allah, minta kemudahan dalam setiap urusan, terutama urusan mendidik anak-anak kita. Semoga Allah mudahkan, aamiin.


2 Comments

  • Evyta Ar

    March 31, 2017

    bagus ternyata ya nim. ini yang dulu kita bahas perbandingannya dengan Islamic Parenting kan ya? yang kita anggap bukunya agak populer/gaul? hihi. bagus ya

    Reply
    • farida elfatica

      March 31, 2017

      iya vy bagusss… salah buku hnim vy, yang hnim maksud buku parenting populer itu yang berjudul positive parenting karya Moh. Fauzil Adhim. Penerbitnya sama, pro-U juga…

      Reply

Leave a Reply