Kecil-kecil Jadi Hafizh

KKJH SITEBismillah,
Sekilas baca judul buku ini, yang kebayang adalah ini buku anak. Tapi begitu baca tulisan kecil di bawahnya “Tips Praktis agar Anak Hafal Al Qur’an sejak dini” langsung pupus sudah bayangan tentang buku anak. Sempat saya tinggalkan buku ini, namun saat mau mengakhiri sesi belanja buku, saya kembali mengambilnya, hihihi takut ntar nyesel karena ngga jadi ambil, toh harganya juga ngga begitu mahal, Rp 25,000 saja.

Sebetulnya, sudah banyak buku tips menghafal Al Qur’an yang sudah saya miliki dan baca, tapi ya tetap saja saya masih belum mampu menyelesaikan hafalan Al Qur’an dengan baik dan benar 🙁 Berhubung sekarang bukan lagi berpikir tentang saya seorang diri, namun harus mikirin amanah ketiga bocah yang diamanahkan ke saya, mau tidak mau, suka tidak suka, referensi bacaan saya mengenai tips yang berhubungan dengan dunia parenting harus saya tingkatkan levelnya.

Buku Kecil-kecil jadi Hafizh ini adalah kitab terjemah yang memiliki judul asli Thifluka wa Al-Qur’an yang ditulis oleh Dr. Yasir Nashr dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Abu Hudzaifah Ath-Thalibi. Sayangnya, saya tidak bisa mendapatkan profil penulis maupun penerjemah di dalam buku berukuran 14 x 20,5cm ini. Padahal saya termasuk seorang pembaca yang sangat mempedulikan tentang profil penulis (dan juga penerjemah bila itu buku terjemahan). Tapi tak apa, setidaknya buku ini terpampang di listing best seller, sehingga cukup menghibur saya dan mempengaruhi alam sadar saya untuk segera membelinya.

20 menit pertama, saya merasakan kebosanan saat membaca buku ini. Bukan karena tak menarik, namun ternyata isinya hampir sama dengan buku-buku tips menghafal Qur’an yang sudah saya miliki sebelumnya, yakni seputar motivasi untuk menghafal Al Qur’an, keutamaan-keutamaan bagi para penghafal Al Qur’an dan hadits-hadits pendukungnya. Dan saya semakin kecewa saat menemukan kutipan 1-2 hadits lemah yang juga dimunculkan pada buku ini (pengennya saya, cukup hadits-hadits hasan shohih saja yang dikutip hihihi). Tapi ketika saya lihat bahwa pencantuman hadits lemah ini tidak berhubungan dengan bahasan utama buku ini, maka bisa saya skip, mungkin ada pertimbangan lain dari sisi penulis yang tidak bisa dijelaskan pada buku ini.

Hampir saja buku ini saya kembalikan lagi ke posisinya semula dan ingin saya raih judul buku yang lainnya. Tapi, nanggung, masa iya nyerah sama buku yang tebalnya cuman 122 halaman sih, lanjutin bentar juga kan selesai. Oke deh saya lanjutkan, sambil pakai posisi se-enak enaknya dan malas-malasan hehehe..

Lembar demi lembar saya baca, dan masyaAllah, akhirnya kata ini terlontar juga. So surprisingly, saya akhirnya menemukan hal yang berbeda pada buku ini, yang tidak saya dapatkan di buku tips menghafal yang lainnya. Buku ini memberikan pemahaman kepada para orang tua dan pendidik untuk jauh lebih memahami kondisi kejiwaan anak, dan saya pun dibuat terbelalak dengan berbagai macam fakta yang saya alami dan itu nyata dibeberkan pada buku ini. Oh, ternyata selama ini saya belum memberikan perlakukan yang tepat untuk anak-anak saya dalam capaiannya menghafal Al Qur’an.

Saya mulai mengubah posisi membaca saya, yang semula sambil tiduran, kini saya tidak mau menikmati manisnya ilmu baru yang mengalir deras di hadapan sambil tidur malas-malasan. Saya ambil posisi fokus saya, duduk dan memegang bolpoin & kertas, karena rasanya terlalu banyak ilmu bermanfaat yang harus saya hafal dan amalkan. Ya, harus! Bagaimana saya harus tetap bersikap sabar dan ikhlas saat menemani murajaah si kecil yang sedang aktif-aktifnya bergerak. Bagaimana saya harus membiasakan anak-anak untuk disiplin dalam rutinitas jadwal menghafalnya, dan apa yang harus saya lakukan ketika anak-anak mulai bisa menirukan satu dua potong ayat di usia mereka yang masih 3 tahun. Ya, buku ini membahas semuanya.. semuanya, bahkan bila Anda seorang single parent, dikupas juga di buku ini bagaimana mensiasatinya.

Bila kebosanan mulai nampak pada diri anak, maka di awal-awal orang tua jangan menampakkan perhatiannya kepada kebosanannya tersebut.

KKJH hal.93

Saya seperti sedang melihat cermin dan ditunjukkan kesalahan-kesalahan teknis yang sudah saya perbuat. Seperti misalnya, jadwal murajaah dari saya yang cenderung lebih longgar, menyesuaikan suasana hati anak, dan sering tergeser oleh acara-acara lain yang saya rasa lebih penting (pada saat itu). Dari buku ini, saya mendapatkan wawasan baru, bahwa dalam membiasakan dan melekatkan hafalan, anak harus memiliki jadwal harian yang tetap dan berkesinambungan. Juga, selain dengan duduk mendengarkan atau sambil bermain dan mendengarkan, berlomba murajaah merupakan salah satu teknik yang berpengaruh kuat pada jiwa anak (dulu saya pernah menerapkan ini, tapi sudah lama saya melupakan teknik yang satu ini, dan Alhamdulillah kini diingatkan kembali).

Konsep berlomba dalam murajaah, misalnya.. kita memiliki dua atau tiga anak yang seumuran, maka berikan pertanyaan kepada mereka, “Siapa yang bisa melafalkan dengan benar Surat An Naba ayat ke 7?” dan begitu seterusnya sampai poin poin tertentu yang bisa kita tetapkan sendiri untuk memilih satu anak sebagai pemenang, dengan reward, yang menang boleh memilih menu makanan untuk esok hari.

Dan berbagai macam metode serta tips menghafal lainnya yang sangat sayang bila tidak dicoba satu per satu, karena menanamkan rasa cinta Al Qur’an pada diri anak dengan metode yang menyenangkan dan tidak membosankan membutuhkan “perjuangan” serta yang terpenting kesabaran sang ibu sebagai pendidik utamanya.

Judul buku: Kecil-kecil jadi Hafizh
Judul asli: Thifluka wa AL-Qur’an
Penulis: Dr. Yasir Nashr
Penerjemah: ABu Hudzaifah Ath-Thalibi
Editor: MUhammad Albani
Cetakan I: Oktober 2015
Penerbit: Kiswah Media
ISBN: 978-602-9176-57-5
harga: Rp 25,000

*Review ini saya sertakan dalam Islamic Translated Book Challenge 2016